SUARA-SUARA DARURAT DARI HUNTARA

SUARA-SUARA DARURAT DARI HUNTARA

Oleh

Rahmadiyah Tria Gayathri

Foto: Dok. Moh. Alif Ramadhan

 

Angin yang menghembus dan merambat ke sendi-sendi tulang, usai hujan yang merembes Jumat sore, 31 Januari 2020 di Kota Palu menemani perayaan rilisan lagu terbaru dari kelompok musik Culture Project, bertempat di Hunian Sementara yang dinaungi warga Jalan Komodo, di atas bukit area Lapangan Golf, beberapa kelompok band dan jurnalis juga kawan-kawan pekerja seni turut mengambil bagian dalam perayaan bersama penyintas di rumah sementara dengan kondisi darurat.

 

Sebagai orang awam, Saya mengenal dan mengagumi kelompok musik Culture Project sejak lama, meski kemampuan mendeskripsikan kualitas bermusik sebuah band, sebagai penulis Saya kurang baik, tapi hal yang bisa Saya pertahankan dari keyakinanku mengidolakan mereka adalah Gagasan dan aktivisme mereka dalam bermusik, diksi-diksi lugas dan tajam sudah lama Saya yakini sebagai senjata andalan untuk terus menunggu rilisan terbaru mereka, hari ini sebagai pengagum atas banyaknya karya yang mereka lahirkan, Saya memilih untuk menjadi pendengar yang subjektif untuk mengatakan bahwa, kelahiran lagu berjudul Darurat membayar waktu bagi Saya dan mungkin banyak orang yang sudah lama menjadi bagian dari pengagum mereka.

 

Tak bisa lagi menunggu, tak bisa lagi menunda, terlalu lama bertahan, terlalu lama berharap sepenggal lirik dari lagu baru mereka membuat Saya ingin berbegas untuk pulang dan mengabarkan ke banyak orang bahwa “Ini terlalu DARURAT untuk didengar”. Baiklah, mungkin Saya terlalu meledak-meledak sebagai penggemar, tapi jika diberikan jeda untuk menjelaskan betapa genting lagu anyar ini untuk dikabarkan ke semua orang, Sekarang coba Saya jabarkan pelan-pelan.

 

Relasi untuk Saudara

 

 

Setelah setahun pasca bencana, berbagai kelompok band juga pekerja seni di Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengambil peran dalam mengintervensi ruang-ruang advokasi di masa rekontruksi. Karya-karya dari pelaku seni di Kota yang baru saja dihabisi bencana tumbuh subur diantara reruntuhan doa dan harapan penyintas yang kehilangan harta, keluarga dan hak atas melanjutkan kehidupan yang layak, sebuah kenyataan yang mengharukan bahwa rekontruksi juga bisa hadir di dimensi-dimensi lain, dengan semangat perjuangan yang sama, atas nama kemanusiaan dan persaudaraan dari penyintas yang haknya tak kunjung diselesaikan. Culture Project menghadiakan lagu bertajuk Darurat sebagai perlawanan di medan juang dengan keyakinan bahwa satu-satunya upaya yang paling nyata yang bisa kita berikan sebagai saudara sesama penyintas adalah melawan ketidakadilan, meski dalam kondisi darurat.

 

Menjadi Api yang Hangat serupa Senjata untuk Melawan

 

 

Di bawah tenda terpal beralas tanah, kami merayakan kelahiran Darurat bersama anak-anak penyintas dengan gegap gempita, angin yang sejak sore menusuk tulang seketika lumpuh dihabisi bara yang menyala dari bait-bait lirik lagu Darurat. Masih legam di ingatan Saya, anak-anak yang duduk tepat di hadapan Culture Projek terkomando bernyanyi seolah lagu itu sudah lama mereka hafal, air di mata Saya mengalir, anak-anak di Huntara terlalu lama menunggu kepastian rumah tetap yang layak, anak-anak itu terlalu lama mengumpul harap yang entah kapan bisa terwujudkan, anak-anak itu seketika menghafalkan lagu Darurat dengan mudah serupa doa-doa yang mereka panjatkan saban hari sebelum berangkat ke sekolah.

 

Setahun sudah luka yang kita abaikan demi menjadi lupa dan melanjutkan kehidupan, Culture Project seolah memanggil kembali ingatan untuk bergegas pulang ke ruang-ruang yang penuh luka di hunian-hunian sementara, pernyataan yang diucap tegas oleh penggagas perayaan MUSIKTIGASI hari ini, Umariyadi Tangkilisan, yang juga merupakan personil Culture Project “Sebagai pekerja seni, kami mungkin tak bisa membagi uang atau benda yang berharga, musik adalah hadiah kami untuk saudara sesama penyintas”. Kekaguman Saya terjawab telak, memilih lupa dan melanjutkan kehidupan bagi sebagian orang adalah sebuah pilihan sebagai penyintas, namun dalam kesukaraan yang sama lagi-lagi Culture Project mengingatkan Saya bahwa masih banyak sekali tugas yang perlu kita kerjakan di dimensi juang yang berbeda, karena Kota ini masih sungguh dalam keadaan darurat.